Pengalaman Perpanjang Paspor di Kantor Imigrasi Mataram

Jadi ceritanya saya beberapa bulan lalu mau perpanjang paspor untuk keperluan keberangkatan umroh di bulan ramadhan 1439H. Sebelum pergi ke kantor imigrasi saya sempat browsing cari info mengenai teknis perpanjangan paspornya agar ketika tiba di kantor imigrasi enggak terlalu lama ngantri dan enggak terlalu ribet ngurusnya.

Dari hasil browsing akhirnya saya dapat simpulkan bahwa kita sekarang udah bisa ngambil nomor antrian secara online. Caranya yaitu dengan cara menginstall aplikasi passpor online, isi data yang diperlukan dan tentukan deh tanggal pengajuan berkas sesuai waktu yang diinginkan. Saya pun langsung melakukan registrasi sesuai langkah-langkah yang ada dan fixed mengajukan nomor antrian di hari yang saya inginkan.

Nah ketika hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, saya pun memasuki pintu gerbang kantor imigrasi Mataram dengan disambut senyuman dari pak satpam. Pak satpam lalu memberikan kartu pengunjung dengan kode “B” untuk pengunjung yang mau mengurus paspor. Setelah itu saya diarahkan untuk langsung menuju gedung yang khusus untuk mengurus paspor di ujung selatan.

Sampai di sana, saya bertemu seorang petugas, saya jelasin dong kalau saya sudah mengambil nomor antrian online via aplikasi. Saya ditanya, “Udah isi formulir pengajuan mba?”. Saya jawab: “Belum pak”. Oke, ternyata harus isi formulir dulu guys, dan tahu enggak formulirnya diambil di sebelah mana? Di lobi utama! Alias balik lagi ke luar gedung ke arah lobi utama, ngambil formulir doang, abis itu masuk lagi ke gedung tempat ngurus paspornya. Eh, kenapa enggak sekalian aja yaa petugasnya menyediakan formulir pengajuan passpor di loket tempat ngurus paspornya langsung. Secara, emang dari awal oleh pak satpam diarahkan langsung ke gedung selatan. Kan bolak balik gitu jadinya -_-

Oke, ternyata banyak berkas yang belum saya lengkapi guys yang tertera pada formulirnya. Padahal di internet saya baca kalau perpanjang paspor itu hanya perlu menunjukkan e-KTP dan paspor lama! Mungkin kah di Mataram aturan itu belum berlaku? Oke, daripada mumet, saya juga sambil bawa dua bayi, akhirnya saya putuskan untuk pulang saja dan mengisi formulirnya di rumah. Kemudian saya siapkan juga beberapa dokumen yang diperlukan. Rasanya kayak bikin paspor baru ini mah.

Saya memutuskan untuk balik ke kantor imigrasi di lain hari. Kali itu saya tidak mengambil nomor antrian secara online karena ternyata lebih enak langsung ngantri di kantor imigrasinya aja. Entah kenapa, walaupun udah daftar antrian online kayaknya itu enggak berlaku deh.

Well, setelah menyerahkan formulir dan semua berkas, saya mengantri untuk difoto dan diambil sidik jarinya. Setelah itu semua selesai, saya dikasi invoice untuk membayar biaya pembuatan paspor. Pembayarannya harus dilakukan melalui kantor pos. Tenang saja, ada mobil Pos Indonesia yang selalu standby di depan kantor imigrasinya. Jadi, langsung aja deh bayar di sana. Nanti diinfokan mengenai hari kapan paspornya bisa diambil. Biasanya sih dalam tiga atau empat hari kerja sudah langsung jadi.

Pada kasus yang saya alami, waktu itu sistem online dari kantor imigrasi pusat sedang down. Kayaknya lagi ada maintenance di sistemnya. Alhasil saya menunggu sekitar satu mingguan untuk mendapatkan paspor baru saya. Udah deh, gitu doang ceritanya. Tips dari saya sih persiapkan dulu aja semua berkas yang dibutuhkan. Saya lupa deh waktu itu apa aja, baiknya sih langsung ambil formulir di kantor imigrasi. Jangan lupa bawa pulpen dan materai 6.000 ya!

Eh, ada cerita lucu deh tentang pulpen ini! Sebenarnya mah kalau masalah pulpen sudah disediakan oleh kantor imigrasi. Jadi ada meja khusus gitu buat mengisi formulir dan pulpennya melekat di meja, yang pakai rantai elastis gitu lhoo. Tau kan yaa? Eh tapi pas saya lihat ternyata cuman ada rantai-rantainya doang, pulpennya udah enggak ada wkwk. Akhirnya suami pergi keluar sebentar beli pulpen.

Ketika saya selesai mengisi formulir, ada ibu-ibu di sebelah saya tiba-tiba menyapa saya, ternyata beliau mau pinjam pulpen karena beliau lupa bawa. Karena saya sudah tidak pakai, saya kasih dong ya… Tak lama setelah itu, suami dari ibu-ibu tadi datang dan pulpen saya pun dipakai sama bapak-bapak itu. Beliau pinjam dari istrinya langsung setelah istrinya selesai mengisi formulir. Abis itu, setelah mereka berdua selesai ngisi formulir, si bapak-bapak ngajakin istrinya pindah kursi, si ibu mengiyakan. Sebelum beranjak pergi, si istri bilang ke suaminya “Pa itu pulpennya di taruh lagi di meja”. Coba tebak si bapak-bapak suami bilang apa ke istrinya? “Udah bu bawa aja enggak apa-apa, entar siapa tau kita butuh pulpen lagi”.

Helooow? Pantes aja yaaa pulpen di kantor imigrasi pada hilang semua. Ternyata mindset-nya kayak gitu tho? Gampang banget yaa bilang “Udah enggak apa-apa” atas barang orang lain yang bukan haknya. Untung si ibu itu nge-jelasin ke suaminya kalau pulpen itu punya saya. Lah, kalau pulpen itu kebetulan punya kantor imigrasinya? Pasti langsung diembat deh. Weleh-weleh…!

Sebenarnya bukan masalah pulpen yang harganya cuman dua ribuan sih.. Ini tuh lebih ke masalah etika dan kebiasaan buruk yang seharusnya dihilangkan. Iya enggak? Sama kayak minjem sendal jepit orang di masjid untuk berwudhu. Walaupun dipinjem sebentar dan nanti dibalikin lagi ke tempat semula tetep aja itu enggak boleh, karena belum ijin ke yang punya kan? Eh ini kok malah merembet ke masalah sendal 😀

Udah ah, ceritanya udahan sampai di sini. Oiya, saya suka deh sama tampilan paspor yang sekarang, lebih cerah dan lebih berwarna.

paspor baru 2018

Semoga tulisan kecil ini bermanfaat bagi kalian yang ingin mengurus paspor di kantor imigrasi Mataram ya! Hace a nice day!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s