UKM Lombok Pasca Gempa

Ngebahas tentang gempa sebenarnya saya ngerasa agak sedikit parno. Karena pikiran saya langsung melayang jauh ke memori beberapa hari silam. Duh, jadi merinding sendiri nginget waktu itu betapa mencekam dan menyeramkan malam-malam yang kami harus lewati di tenda pengungsian.

Dampak dari gempa berkekuatan antara 3-7 SR yang mengguncang Lombok selama kurang lebih satu bulan penuh tentunya tidak hanya menyisakan trauma yang mendalam. Banyak sektor kehidupan yang akhirnya lesu bahkan mati suri. Mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, pariwisata hingga ekonomi.

Terkait dampak gempa pada sektor ekonomi tentu sangat terasa bagi mereka yang bergelut dalam usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Nah, termasuk saya nih salah satunya. Suami yang bergelut dalam usaha penjualan pizza homemade langsung merasakan dampak yang luar biasa terhadap penjualan.

Tentu di luar itu semua ini sudah takdir yang harus dihadapi. Masing-masing orang memiliki ujian yang berbeda-beda. Tidak bermaksud mengurangi rasa syukur kami yang masih diberi kesempatan hidup ini, namun setidaknya ada beberapa cerita dibalik melemahnya UKM di Lombok.Daya Beli Masyarakat Menurun

Ya iya… Siapa coba yang berani keluar rumah mikirin “mau nongkrong di mana hari ini?’? Boro-boro keluar rumah buat jalan-jalan sore, masuk ke kamar mandi aja masih mikir-mikir. Itu bagi mereka yang masih punya rumah. Masyaallah yang rumahnya sudah rata dengan tanah tentunya tidak sempat lah mikirin jajan pizza. Serius lhoo, trauma kami di sini sangat mendalam. Ada suara truk lewat aja kita udah ngira mau gempa aja. Nah, dari sini udah kerasa banget kalau daya beli masyarakat langsung menurun karena fokus pikirannya udah beda.

Kehilangan Tempat Produksi dan Karyawan

Banyak UKM yang kemudian kehilangan rumah atau ruko tempat produksi. Selain itu, untuk membangun kembali usaha juga terbilang sulit karena beberapa karyawan yang berasal dari daerah lain harus kembali ke daerah asal. Hal ini dikarenakan mereka tidak mungkin meninggalkan keluarga dalam keadaan gempa yang terus-menerus terjadi.

Harga Bahan Baku Melambung Tinggi

Gempa menjadikan banyak toko yang tutup. Pasar yang semula ramai menjadi sangat sepi. Para pengusaha lebih mementingkan berkumpul bersama keluarga dibanding mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Kembali ke poin awal tadi, “siapa juga yang berani keluar rumah?”. Padahal kenyatannya, banyak kebutuhan yang tidak bisa dicut begitu saja setelah terjadinya gempa. Hal ini menjadikan banyak pihak yang mengambil untung dengan menaikkan harga, termasuk harga bahan baku produksi produk UKM. Selain itu, bahan baku yang didatangkan dari daerah lain tentunya mengalami kendala untuk masuk ke Lombok sehingga harga menjadi melambung tinggi.

Duh, cetek banget sebenarnya analisa dari tulisan ini wkwk. Gapapa lah yaa, itung-itung nambah postingan blog sebagai bentuk trauma healing ๐Ÿ˜€

Sebenarnya intinya mah mau curhat kalau pasca gempa Lombok kehidupan ekonomi jadi “Rrrrr” banget! Ngerti kan ya maksud saya. Ibaratnya nih kita yang lagi semangat kenceng-kencengnya lari, tiba-tiba “didorong” dan “dipaksa” buat tiarap. Sakit guys. Nah, buat bangkitnya itu yang rada susah. Udahย  gitu aja ๐Ÿ˜€

Maafkan saya jika tulisan ini enggak ada manfaatnya ๐Ÿ˜€

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s