Apakah Zakat Profesi Termasuk Zakat Mal?

Bismillahirrahmaanirraahiim..

Dulu ketika memutuskan untuk membuat blog di wp ini sebenarnya niat awalnya adalah untuk menyalurkan hobi menulis sekaligus ingin membagi sedikit ilmu ekonomi syariah yang saya peroleh di bangku kuliah. Yup, saya adalah seorang alumni sekolah tinggi ekonomi islam, yang dari awal masuk kuliah sampai sekarang udah lulus enggak pernah mahir dalam ilmu yang saya pelajari.

Maka dari itu, walaupun niat awal ngeblog adalah untuk menulis tentang ekonomi syariah, jujur sampai sekarang saya belum terlalu pede menyampaikan pendapat tentang ilmu ekonomi islam ini. Alasan utamanya sih karena ilmunya masih cetek, masih secuil. Jadi, setiap kali bikin draft tulisan berbau ekonomi islam, hampir sebagian besar enggak jadi di-publish LOL. Kayaknya tulisan blog yang bener-bener bisa bikin saya pede untuk disebarluaskan hanya postingan yang berjudul Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya?

Tapi kali ini, menjelang bulan Ramadhan yang hanya menghitung hari.. saya tiba-tiba teringat suatu hari pada tahun 2010 ketika saya mengikuti pelatihan tentang zakat di Jakarta yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga amil zakat nasional. Waktu itu menjelang bulan suci Ramadhan, saya yang masih berstatus mahasiswi melamar sebagai relawan gerai zakat di lembaga tersebut. Hitung-hitung bisa menambah ilmu dan menambah uang THR hehe.

Hal-hal yang dibahas dalam pelatihan selama sehari penuh itu tentunya adalah segala hal yang berkaitan dengan zakat. Apa itu zakat, bagaimana perhitungannya, syarat harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, dan sebagainya.

Dalam postingan kali ini, tentu saya tidak bisa menguraikan semua materi yang disampaikan waktu itu. Hanya saja ada satu hal yang masih saya ingat betul, yaitu yang berkaitan dengan zakat profesi. Tapi perlu diingat ya, saya hanya berbagi apa yang saya peroleh dalam pelatihan tersebut dan saya bukanlah orang yang mahir dalam hal fiqih zakat. Jadi kalau sekiranya ada yang tidak setuju atau kurang berkenan dengan tulisan ini mohon tidak dijadikan bahan perdebatan ya ๐Ÿ™‚

Baiklah, sesuai judul tulisan “Apakah Zakat Profesi termasuk Zakat Mal?” maka pertama-tama kita bahas dahulu mengenai apa itu zakat profesi.

Zakat Profesi

Pembahasan mengenai zakat profesi ini termasuk ke dalam fiqih zakat kontemporer. Disebut kontemporer karena istilah “Zakat Profesi” baru terkenal pada zaman sekarang ini, alias tidak ada “istilah” zakat profesi pada zaman nabi/sahabat terdahulu (salaf). Salah satu ulama fiqih kontemporer yang memperkenalkan zakat profesi dan membahas panjang lebar dalam bukunya adalah Yusuf al-Qaradhawi.

Kapan zakat profesi itu harus dibayarkan dan bagaimana cara menghitung zakat profesi?ย Sebelum membahas lebih lanjut, dalam zakat kita mengenal dua istilah penting sekaligus syarat yang harus dipenuhi oleh harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Dua istilah penting ini adalah Nishab dan Haul dan tidak ada ulama yang berselisih pendapat mengenai pengertian kedua istilah tersebut.

Nishab adalah jumlah minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya oleh seseorang yang memiliki harta tersebut. Misalnya seorang yang memiliki emas akan wajib mengeluarkan zakatnya apabila telah mencapai Nishab emas sebesar 85gr. Apabila seseorang yang memiliki emas kurang dari 85gr maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat.

Yang kedua adalah Haul yaitu batas minimal waktu kepemilikan harta wajib zakat. Haul minimal adalah satu tahun. Contohnya adalah orang yang memiliki emas 85gr akan wajib mengeluarkan zakatnya apabila ia telah menyimpan/memiliki emas tersebut selama minimal satu tahun.

Menghitung Zakat Profesi

Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya yang berjudul Fiqih Zakat menjelaskan bahwa zakat profesi wajib dikeluarkan atas gaji/penghasilan yang telah mencapai nishab (batas minimal harta wajib zakat) setelah dikurangi hutang. Artinya, zakat profesi harus dibayarkan setiap bulan atau setiap kali menerima gaji.

Meskipun istilah zakat profesi tidak pernah ada penjelasannya dalam hadis nabi, Yusuf al-Qaradhawi ย menjelaskan bahwa pengandaiannya bisa disamakan dengan zakat hasil pertanian. Dimana hasil pertanian dibayarkan setiap kali panen dengan nishab sebesar 653 kg gabah atau setara 520 kg beras.

Jadi misalnya nih, harga 1 kg beras saat ini adalah Rp 10.000 maka kita wajib mengeluarkan zakat apabila penghasilan kita sudah mencapai 520 kg x Rp 10.000 = Rp 5.200.000/bulan. Besar zakat yang dibayarkan (dan juga berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia) adalah sebesar 2,5%.

Apakah Zakat Profesi termasuk dalam Zakat Mal?

Lalu apakah zakat profesi ini termasuk dalam zakat mal yang wajib dikeluarkan zakatnya?

Ada beberapa kalangan yang menilai zakat profesi adalah suatu hal yang baru dan tidak ada dalil yang menyebutkan secara rinci mengenai zakat profesi ini, baik itu di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Saya tidak ingin memperdebatkan sesuatu yang saya juga tidak kompeten di dalamnya. Saya juga bukanlah ulama yang paham mengenai kaidah-kaidah fiqih dan tafsir dalil-dalil tentang zakat profesi ini. ย Namun ijinkan saya menyampaikan kembali apa yang menjadi dasar ulama kontemporer dalam mengeluarkan fatwa tentang zakat profesi ini yaitu dalil dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (2) ayat 267 yaitu:

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…”

Kata sebagian dari hasil usahamu menunjukkan bahwa apapun yang kita usahakan/kerjakan yang membuahkan hasil. Termasuk di dalamnya adalah profesi yang kita tekuni saat ini. Entah itu gaji yang diperoleh dari bekerja kantoran, hasil pertanian, hasil peternakan, hasil investasi, dan sebagainya. Jika sudah memenuhi syarat minimal wajib zakat maka tentunya harus dibayarkan zakatnya.

Jadi, apakah zakat profesi termasuk juga zakat mal? Maka jawabannya adalah iya. Karena sejatinya gaji yang kita peroleh adalah termasuk dalam kategori harta (mal = Bahasa Arab) yang kita miliki.

Memang kata “zakat profesi” tidak disebutkan secara tersirat dalam al-Qur’an maupun Sunnah, yang ada hanyalah “Menginfakkan sebagian dari hasil usaha” yang merupakan konsep/kaidah dasar dari zakat profesi.

Tentu lain halnya jika pekerjaan yang Anda geluti saat ini adalah (menurut Anda) bukan suatu bentuk usaha yang menghasilkan harta. Maka tentu tidak termasuk ke dalam apa yang disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 267 tadi.

Wallahua’lam.

Sekali lagi, saya tidak melayani debat yaaa. Saya terbuka terhadap komentar maupun masukan yang membangun ๐Ÿ™‚

Thanks for reading guys ^^

Advertisements

One thought on “Apakah Zakat Profesi Termasuk Zakat Mal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s