Lebaran Topat: Momen Berkumpul Bersama Keluarga, Tradisi Khas Suku Sasak

download-gambar-ketupat1

Hallo teman-teman blogger…

Bagaimana dengan lebaran Idul Fitri teman-teman? Pasti seru dan menyenangkan dong yaa? Ada yang mudik rame-rame ke kampung halaman, ada yang mungkin gak bisa mudik karena kerjaan, atau udah bertahun-tahun gak mudik karena anak kos/perantauan -,-. Kalau ini saya banget, tapi itu dulu.. Waktu jaman masih kuliah di Bogor sana, saya hampir enam tahun lhoo gak pulang lebaran.

Gimana rasanya enam tahun gak pernah lebaran di kampung? Yang pasti sedih banget! Tapi kembali lagi, apa mau di kata. Diriku yang anak kos, di tanah perantauan, jauh dari sanak keluarga, cuman bisa pasrah aja -_-.

Tapi syukurnya siih, karena jaman udah modern dan canggih gini. Saya setiap kangen keluarga ya tinggal video call aja. Walaupun kampung saya di Pulau Lombok letaknya jauh di Indonesia bagian timur sana, tapi sinyal internet udah lumayan bagus lah menurut saya. Apalagi keluarga saya juga tipe orang yang selalu up-to-date #hihi. Kebanyakan sudah punya hape android yang udah support sinyal 4G. Jadi pas video call, tinggal di #4GinAja sudah bisa mengobati rasa kangen berjumpa keluarga. Video call-an lama-lama juga gak jadi masalah karena konektifitasnya yang pasti stabil kalau udah pakai 4G πŸ˜‰

Oke, karena lebaran kali ini adalah lebaran pertama saya setelah enam tahun di perantauan. Rasanya campur aduk, senang karena bisa kumpul lagi sama keluarga. Ada sedihnya juga karena anggota keluarga yang lain ada yang udah meninggal. Tapi secara keseluruhan insyaallah menyenangkan. Misalnya banyak anak-anak kecil baru bermunculan #eh. Maksudnya ada tante dan beberapa sepupu yang baru melahirkan, bahkan ada juga yang udah punya anak umur 4-5 tahun. Jadi waktu pertama kali ketemu, rasanya gimanaa gitu yaa. Adek-adek yang baru ngeliat saya pada bertanya-tanya “Kamu siapaaa?” Haha..

Baca juga: Cerita Lebaran Pertama Setelah Enam Tahun Tak Pulang Kampung.

Anyway, lebaran di kampung halaman saya di Pulau Lombok sii secara umum sama aja kayak di tempat-tempat lain. Misalnya, malem hari raya ada takiran keliling (kalau ditempat saya masih ada dan rutin diadakan tiap tahun), di hari-H Idul Fitri masyarakat berbondong-bondong ke masjid untuk sholat Ied, terus entar abis itu pada pergi silatrrahim ke tempat orang tua atau kerabat.

Baca juga: Semarak Pawai Takbiran di Kota Mataram.

Nah, tapi ada yang sedikit berbeda nii… Di Lombok, puncak keceriaan lebaran itu bukan pada hari Idul Fitri lhoo teman-teman. Melainkan seminggu setelahnya, dan dikenal dengan nama Lebaran Topat atau Lebaran Ketupat.

APA ITU LEBARAN TOPAT?

Lebaran Topat merupakan tradisi turun temurun masyarakat suku sasak yang konon sudah berlangsung selama ratusan tahun. Dulu pada awalnya Lebaran Topat lahir sebagai bentuk perayaan bagi masyarakatΒ  yang telah melaksanakan puasa sunnah Syawal yaitu puasa enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri. Namun sekarang, bagi yang puasa Syawal maupun yang tidak, perayaan Lebaran Topat sudah menjadi tradisi tiap tahun yang dilaksanakan oleh hampir semua masyarakat di Pulau Lombok.

Sebenarnya tahun lalu saya sudah mem-posting hal serupa lengkap dengan asal muasal, tradisinya seperti apa, sampai penjelasan mengenai “Perang Topat” yang menjadi pelengkap tradisi Lebaran Ketupat di Pulau Lombok (Baca di sini yaa). Bedanya, karena sekarang saya sudah pulang kampung, di postingan kali ini saya akan berbagi ceritaΒ  mengenai keceriaan pelaksanaan lebaran topat yang saya alami sendiri secara langsung.

PERSIAPAN SEBELUM LEBARAN

Persiapan untuk menyambut Lebaran Topat sudah dilakukan sehari sebelum hari-H. Biasanya makanan yang disiapkan selain topat itu sendiri adalah opor ayam, semur daging, telur rebus, tempe bacem dan makanan pelengkap lain sesuai selera. Walaupun jenis makanannya beragam, ada satu makanan yang tidak boleh ketinggalan bagi masyarakat asli sasak adalah Pelecing Kangkung. Makanan yang satu ini emang biasanya selalu ada di setiap momen penting masyarakat sasak seperti acara keluarga, syukuran, atau kumpul bareng teman.

Dulu di perantauan sana pun makanan yang paling saya rindukan adalah pelecing kangkung. Udah beberapa kali nyoba buat bikin pelecing sendiri di kos-kosan, tapi tetap aja rasanya beda. Karena kangkung di Lombok ditanamnya bukan di darat, melainkan di air. Jadi tangkainya besar-besar dan lebih empuk pas dimakan.

makanan lebaran topat
yang paling kiri (bawah) namanya Pelecing Kangkung, umumnya selalu ada di setiap acara

HARI-H LEBARAN TOPAT: ROAH DI MASJID

Nah, inti dari perayaan Lebaran Topat ini adalah ketika masyarakat berbondong-bondong ke masjid dari subuh. Mirip seperti hari H Idul Fitri, tapi masyarakat ke masjid bukan buat sholat melainkan untuk melaksanakan tradisi yang namanya Roah.

Nama lain dari Roah dalam bahasa Indonesia bisa disebut sebagai syukuran. Roah ini adalah inti utama dari perayaan Lebaran Topat. Bentuk pelaksanaan roah pada Lebaran Topat yang diselenggarakan di hampir setiap desa umumnya sama yaitu dengan cara membawa makanan sendiri dari rumah untuk disantap di Masjid. Tiap keluarga nantinya akan membentuk lingkaran tersendiri dan menyantap makanan yang dibawanya secara bersamaan atau yang dikenal dengan istilah begibung.

begibung
Acara Roah di Masjid diikuti oleh semua warga desa/kelurahan

Nah, makanan yang dibawa warga dari rumah mereka masing-masing itu biasanya ditata di atas Nare (bahasa sasak untuk nampan). Makanan yang ada dalam satuΒ nareΒ tersusun dengan rapi, kadang menjulang tinggi, sampai lima susun, tergantung dari jumlah anggota keluarga yang nantinya ikut begibung.

nare
Nampan tempat menaruh makanan yang bentuknya bundar ini disebut Nare

dan yang ditunggu-tunggu pun tibaa..

Di hari-H Lebaran Topat, warga sudah mulai berbondong-bondong datang ke Masjid dari selepas sholat subuh, atau paling telat pukul enam pagi. Semua warga sangat antusias, terutama anak-anak. Sembari menunggu warga lainnya datang, biasanya mereka (anak-anak) menabuh beduk sambil takbiran layaknya lebaran Idul Fitri.

Sebelum acara begibung dimulai, para pemuka agama dan pejabat desa terlebih dahulu membuka acara roah dan kemudian memimpin jamaah membaca zikir, tahlilan, doa danΒ  shalawat nabi. Biasanya para warga mengeluarkan uang (patungan) untuk menyediakan makanan khusus bagi mereka. Gak wajiib siih, bahkan banyak juga warga (yang secara personal) membawa makanan lebih untuk diberikan ke pemuka adat/agama.

Nah, sekitar pukul 08.00, acara inti yaitu begibung (makan-makan) pun dimulai. Yang unik, sebelumΒ begibung terlaksana, biasanya akan ada “aba-aba” terlebih dahulu. Pertanda begibung akan segera dimulai adalah ketika hendak selesai membaca shalawat nabi. Pemuka agama nantinya akan memberikan “aba-aba” dengan berkata:

Bukaaa Nareeeee…!!!!

Seketika semua jamaah yang hadir akan teriak juga bilang “Bukaaa Nareeeee…!!!!”

Nah, momen ini nii yang paling ditunggu. Ketika semua pada serempak bilang buka nare (Bahasa Indonesia: buka nampannya), sudah dipastikan semua wajah akan terlihat bahagia, ceria dan ketawa seketika.. lucu deh pokoknya :D. Karena dengan buka nare itu artinya makanan yang ada di depan mata sudah siap tuk disantap bersama *horraiii…

buka nare
Buka Nareeee, dimulaiii!!! (lihat deh, mukanya pada ceriaaa kaan? \(^^)/

MOMEN WISATA BARENG KELUARGA

Selesai begibung, momen kumpul bersama keluarga tidak selesai sampai disitu saja. Setelah perayaan roah di Masjid, semua masyarakat Lombok sudah dipastikan akan pergi jalan-jalan atau berwisata ke pantai. Sepertinya sudah menjadi budaya lokal bahwa Lebaran Topat itu identik dengan berkumpul bersama keluarga di pantai. Biasanya semua kawasan pantai akan ramai pengunjung dari pagi hingga sore. Mereka berbondong-bondong menggelar tikar di atas pasir sambil menyantap topat yang dibawa dari rumah masing-masing. Setelah makan-makan, biasanya mereka langsung berenang.

pantai-topat-e1468371833373
Lebaran Topat: kawasan pantai ramai dari pagi hingga sore (sumber foto)

Saya yang kebetulan lagi hamil anak pertama memutuskan untuk tidak pergi berwisata di hari Lebaran Topat. Karena emang selain bakal ramai banget, di jalanan udah pasti macet dan bikin gak nyaman kan kalau bumil diem duduk di kendaraan berjam-jam. Entar aja deh jalan-jalannya kalau si debay udah lahir (which isΒ gak lama lagi ^^). So,Β gapapa yaa foto ilustrasinya saya copot di internet sebagai gambaran buat teman-teman.

Gimana? Tradisi Lebaran Topat di Lombok Seru yaaa…? Apakah teman-teman dari wilayah lain juga memiliki tradisi yang sama? πŸ™‚

Thanks for reading…


Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru

GA LEBARAN SERU

Advertisements

27 thoughts on “Lebaran Topat: Momen Berkumpul Bersama Keluarga, Tradisi Khas Suku Sasak

  1. Hampir mirip di desa saya di Jawa Timur sana. Namanya lebaran ketupat. Tapi enggak serame di masjid Mbak Ros. Biasanya tiap keluarga yang bikin ketupat dan lepet bawa satu kantong atau keranjang kecil. Dilengkapi sambal serundeng. Dikeluarkannya pas bakda Subuh. Ketupat dikumpulkan di tengah lalu ada petugas yang mengambil minimal dua ketupat/lepet untuk dibagiin kepada mereka yang enggak biikin. Setelah doa, kita pun bersantap sambil nunggu matahari terbit. Enak sekali mencicipi ketupat dan lepet bikinan orang hehe….

    Btw, ceritain MTQ di Lombok dong Kak πŸ™‚

    Like

  2. Seruuuunya Mbaaakkk, Waktu Pemuka Agama teriak Buka Nareeeee, saya ikut senyum lho Mbak. Terbayang bagaimana hebohnya Masjid saat itu ya..

    Like

  3. Banyak kosakata baru yg Cinta dpt :
    – nare : nampan
    – roah : syukuran
    – begibung : satu keluarga membentuk lingkaran di acara topat lebaran untuk kemudian menyantap makanan yg dibawanya secara bersamaan.

    Artikelnya keren mba, suka! πŸ‘

    Btw, plecing kangkung itu apakah mirip pecel kangkung ya mba? *kepo 😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s