Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya?

Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya_

Semenjak kemunculannya, perbankan syariah dapat dikatakan masih “kontroversional” di kalangan kaum muslim hingga saat ini. Eksistensi bank syariah di negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam pun masih memprihatinkan. Sudah 25 tahun bank syariah ada di Indonesia (semenjak berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991), namun market-sharenya terhadap total perbankan nasional baru mencapai 4,87%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bank konvensional dengan sistem ribawinya masih menjadi favorit kaum muslim. Sedangkan bank syariah yang jelas hadir dengan sistem islami masih kurang peminat.

Kira-kira, faktor apa yaa yang menyebabkan bank syariah masih kurang peminatnya?

Kemungkinan yang menjadi fokus utama ketika ingin menjawab pertanyaan tersebut adalah terkait fakta masih banyaknya masyarakat yang belum tahu bahwa sistem ribawi pada bank konvensional itu hukumnya haram dan mereka tidak paham bahwa beralih ke bank syariah merupakan kewajiban (bukan pilihan). Semestinya masyarakat dari kelompok yang seperti ini jumlahnya hanya sedikit karena akses informasi pada zaman modern saat ini begitu luas. Saya rasa masyarakat yang sudah memiliki akses ke perbankan pada umumnya juga sudah memiliki akses ke berbagai bentuk media teknologi informasi seperti televisi, media cetak, media online, dan sebagainya. Apalagi dengan adanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga negara yang mengatur dan mengawasi lembaga jasa keuangan di Indonesia, memiliki Bidang khusus dalam Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK). Bidang EPK OJK ini telah melaksanakan edukasi dan sosialisasi yang bersifat masif dan komprehensif kepada masyarakat terkait lembaga jasa keuangan termasuk salah satunya bank syariah.

Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika masyarakat muslim yang sudah mengetahui tentang keharaman sistem ribawi yang ada pada bank konvensional tetapi masih memendam keraguan pada bank syariah. Alasan mereka beragam, bahkan sampai ada yang melontarkan tuduhan bahwa bank syariah tidaklah lepas dari riba, bank syariah sama saja dengan bank konvensional hanya beda di nama akadnya saja, dan masih banyak lagi pemikiran miring yang beredar dan membuat masyarakat ragu-ragu pada bank syariah. Menurut saya, masyarakat dari kelompok inilah yang jumlahnya masih sangat banyak sehingga mengakibatkan kontroversi bank syariah terus berjalan. Alhasil, market share bank syariah sampai saat ini masih stagnan di bawah target minimal 5%.

Banyak tudingan dan pandangan miring yang beredar dan membuat masyarakat menjadi ragu pada bank syariah

Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya_

Walaupun legalitas halal telah dijamin oleh Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), banyak masyarakat yang masih ragu untuk berpindah ke bank syariah. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu penyebabnya adalah terlalu banyak tudingan dan pandangan miring yang ditujukan ke bank syariah. Contohnya seperti 10 poin di bawah ini:

1. Bank Syariah sama saja dengan bank konvensional, hanya beda di nama akadnya saja.

Faktanya, memang benar yang membedakan antara bank konvensional dan bank syariah   salah satunya adalah akad. Lho tapi jangan salah, justru akad inilah yang memiliki peran  penting dalam membedakan halal dan haram. Contohnya: pasangan suami istri sudah dikatakan halal setelah akad (ijab kabul) yang diikrarkan kurang dari 5 menit, sedangkan pasangan (maaf) “kumpul kebo” itu jelas haram karena tidak ada ijab kabul yang sah sesuai syariat. Sudah jelas kan? Kegiatan yang mereka lakukan mungkin sama (berkeluarga, memiliki anak dan keturunan), tapi status halal-haramnya beda. Jadi jangan remehkan yang namanya akad ya?! Begitu pula di bank syariah, “akad” yang dipandang masyarakat hanya beda istilah saja itu sangatlah penting dalam setiap transaksi. Yang jelas, semua akad/transaksi yang ada di bank syariah sudah ada yang mengawasi agar tidak keluar dari nilai-nilai islami.

2. Kalau diperhatikan kok kayaknya kegiatan simpan-pinjam di bank konvensional dan bank syariah itu sama saja ya?

Mari simak ilustrasi yang satu ini ya: Pak Maman mempunyai uang Rp 5 Juta dan ia meminjamkan uangnya tersebut ke tetangganya Pak Jojon yang sedang membutuhkan dana. Tapi Pak Maman meminta Pak Jojon agar mengembalikan uangnya nanti setelah jatuh tempo sebesar Rp 5,5 Juta, sehingga di sini Pak Maman bisa mengambil “keuntungan” atas pinjaman yang diberikannya sebesar Rp 500ribu. Lain halnya dengan Pak Budi yang juga memiliki uang sebesar Rp 5 Juta tapi Pak Budi lebih memilih membeli motor untuk kemudian dijual kembali ke temannya yang kebetulan berprofesi sebagai tukang ojek dengan harga Rp 5,5 Juta. Dengan begitu, keuntungan yang diperoleh Pak Budi juga sama yaitu sebesar Rp 500ribu.

Jika dilihat dari segi besarnya keuntungan yang diperoleh, pada akhirnya Pak Maman dan Pak Budi sama-sama mendapatkan Rp 500ribu. Namun jika dilihat dari segi syariah, keduanya sangatlah berbeda. Pak Maman dalam hal ini sudah melakukan transaksi ribawi yaitu mengambil tambahan atas pinjaman yang diberikannya kepada Pak Jojon dan hal ini termasuk Haram dalam Islam. Sedangkan transaksi yang dilakukan Pak Budi adalah transaksi jual beli yang diperbolehkan/dihalalkan oleh syariah (Lihat Q.S. Al-Baqarah: 275). Ilustrasi inilah yang sekarang sedang terjadi di bank konvensional (Pak Maman) dan bank syariah (Pak Budi). Terlihat sama namun prinsipnya jelas berbeda.

3. Prosedur di bank syariah terlalu bertele-tele.

Kembali ke poin nomor.2 di atas, mungkin memang benar proses yang dilakukan terlalu bertele-tele padahal keuntungan yang sama bisa diperoleh dengan cara yang lebih gampang. Perlu diketahui bahwa bank syariah itu memberikan layanan sesuai amanah sang nasabah dan amanah itu semua harus tertuang dalam bentuk akad. Nah, bank syariah justru akan melakukan segala hal yang perlu dan penting guna menjamin transaksi yang dilakukannya bisa berjalan dengan baik, lancar, dan sesuai akad serta tidak bertentangan dengan syariat Islam.

4. Modalnya kan dari bank konvensional, sama saja haram dong?

Modal awal pembentukan sebuah bank syariah itu berasal dari setoran dana para pemegang saham ditambah laba ditahan pada tahun berjalan. Modal dari para pemegang saham inilah yang memiliki proporsi yang paling besar (dominan), sehingga tidak bisa langsung dinyatakan haram. Kecuali jika terus dipertanyakan: darimana para pemegang saham memperoleh uang? dari hasil korupsi kah? dan seterusnya. Pertanyaan macam ini tidak akan ada habisnya. Lagipula, apakah harus dilarang jika ada pemegang saham dari bank konvensional ingin menanamkan modalnya di bank syariah? Agama Islam adalah agama yang menerima tolong menolong dalam kebaikan. Bermuamalah dengan orang non-muslim pun diperbolehkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Jika bank konvensional kemudian mendirikan Unit Usaha Syariah (UUS) lantas apakah UUS tersebut bisa dibilang sama dengan bank konvensional induknya? Saya rasa tidak. Sebagai ilustrasi: Apakah anak yang terlahir dari keluarga non-muslim akan selamanya menjadi kafir? Jika pada akhirnya ia menemukan Islam dan bersyahadat tentu tidak bisa dikatakan kafir lagi hanya karena ia “bersumber” dari keluarga non-muslim. Dalam Islam, si anak yang muallaf pun diharuskan tetap menjaga silaturrahmi dengan orang tuanya yang non-muslim.

5. Biayanya lebih mahal daripada bank konvensional.

Salah satu akad kerjasama yang ada di bank syariah adalah akad mudharabah dimana bank memberikan pembiayaan/dana dalam jumlah tertentu untuk modal usaha nasabah. Dalam akad ini disepakati bahwa ketika nasabah untung, keuntungannya akan dibagi kepada bank syariah sesuai porsi/nisbah yang sudah disepakati. Begitu pula ketika ada kerugian, bank syariah dan nasabah sama-sama menanggung jumlah kerugian sesuai porsi modal yang ditempatkan. Beda halnya dengan bank konvensional, besar angsuran bunga yang harus disetorkan nasabah perbulannya didasarkan pada jumlah pembiayaan yang diberikan (bukan untung/rugi) dengan nilai yang sudah fixed. Jadi, biaya bank syariah yang terkesan lebih mahal terjadi apabila nasabah untung besar, karena besar pula yang akan diterima oleh bank. Hal inilah yang kemudian lebih berkembang di masyarakat dibandingkan dengan keadaan jika nasabah memperoleh untung kecil maka tentunya biaya bank syariah akan lebih murah daripada bank konvensional.

6. Jadi, nabung di bank syariah tidak pasti untung?

Ketika nasabah mengamanahkan uangnya untuk dikelola oleh bank syariah dengan akad bagi hasil, bank syariah tidak bisa mendahului kehendak Allah dengan menjanjikan bunga sekian persen sebagaimana yang dilakukan oleh bank konvensional. Hal ini dikarenakan setiap usaha yang dijalankan tidak selama untung dan ada kalanya merugi. Menurut saya, nasabah bank syariah memang dikhususkan bagi mereka yang memiliki pemikiran “rasional”. Mereka sudah memasukkan dimensi akhirat ke dalam kehidupan ekonomi mereka dengan memilih bank syariah yang untungnya tidak pasti tapi aman dari transaksi ribawi.

7. Pegawainya kurang kompeten, kurang menguasai produk-produk syariah.

Memang benar sebagian pegawai bank syariah berasal dari (atau ex-pegawai) bank konvensional dan mungkin belum begitu paham tentang dalil-dalil dan kaidah fiqh yang ada pada produk-produk syariah. Namun hal ini tentunya tidak bisa dijadikan patokan bahwa bank syariah itu sama saja dengan bank konvensional. Apalagi sampai menuduh bank syariah itu belum syariah. Harapan kita bersama agar kedepannya pegawai bank syariah bisa mempelajari produk-produk syariah lebih mendalam lagi. Apabila memang didapati praktik yang tidak sesuai dengan fatwa DSN-MUI, sebaiknya nasabah langsung berdiskusi dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang ada pada masing-masing bank syariah dan tidak membicarakannya di belakang mereka demi menciptakan sebuah kritik yang membangun dan memberikan solusi.

8. Pegawai bank syariah ada yang non-muslim?

Benar, terdapat pegawai non-muslim di bank syariah. Bank syariah memiliki alasan akan hal ini selain memang sumber daya muslim yang kompeten masih terbatas, yaitu diperbolehkannya melakukan muamalah dengan non-muslim (karena Rasulullah SAW pun tidak melarang), bertujuan untuk dakwah atau memperkenalkan Islam ke mereka, agar non-muslim tidak canggung bertransaksi di bank syariah dan agar mereka tidak merasa umat muslim skeptis terhadap mereka. Bank syariah juga dalam hal ini memiliki kriteria khusus dalam merekrut pegawai non-muslim yaitu: mereka bukanlah berasal dari kelompok yang memusuhi Islam, tidak memiliki dampak negatif terhadap muslim, harus mematuhi aturan yang ada di bank syariah dan tidak boleh menduduki jabatan penting (tidak menjadi atasan).

9. Masih menggunakan ATM dari bank konvensional, uangnya bercampur dengan uang bank konvensional jadi tetap saja haram.

ATM sama halnya seperti handphone atau komputer, hanyalah alat atau sarana untuk mempermudah nasabah bank syariah dalam bertransaksi. Sampai saat ini belum ada dalil yang mengharamkan mesin ATM, karena dalam kaidah fiqh dikenal istilah “semua bentuk muamalah itu halal sampai ada dalil keharamannya”. Mengenai uang, memang benar bahwa secara fisik uangnya bercampur tetapi tidak bisa langsung dikatakan bank syariah itu sama saja dengan bank konvensional. Sebab, tidak ada istilah halal-haram dalam bentuk fisik uang. Yang ada adalah cara mendapatkan atau proses pengelolaan uanglah yang bisa ditetapkan halal-haramnya. Seperti ilustrasi pada poin no.2 di atas, yang membedakan transaksi yang satu dengan yang lain itu haram atau tidak adalah proses mendapatkan keuntungannya, bukan fisik uangnya.

10. Produk-produknya susah dipahami

Sebenarnya, prinsip yang ada pada bank syariah itu terangkum dalam enam jenis yaitu jual-beli, titipan, bagi hasil, sewa, pinjaman dan jasa. Hanya saja, memang di awal kemunculannya bank syariah menggunakan istilah-istilah Arab dalam penyebutan nama-nama produknya sehingga terkesan rumit dan susah dipahami. Padahal tidak, mungkin karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan istilah-istilah bahasa Inggris saja. Nah, sekarang bank syariah sudah mulai menggunakan istilah-istilah yang sudah tidak asing lagi dan insyaallah mudah dipahami seperti Tabungan iB, Investasi iB, Pembiayaan iB, dan seterusnya.

*

Begitulah kira-kira isu dan pandangan “miring” yang beredar di masyarakat terkait bank syariah. Padahal kalau dilihat lagi, isu tersebut belum tentu benar dan belum tentu sesuai dengan fakta yang ada. Mungkin masih banyak lagi isu dan pemikiran miring lainnya yang menjadikan kontroversi ini tiada henti. Menurut saya pribadi, seharusnya esensinya tidaklah berputar-putar pada pro-kontra bank syariah melainkan masyarakat harus diajak untuk meninggalkan sistem ribawi yang jelas haram. Adapun ketika bank syariah masih belum sempurna, merupakan tugas kita bersama untuk memperbaiki kekurangannya.

Saya sudah menabung di bank syariah, bagaimana dengan teman-teman? Masihkah  memendam keraguan?

Demikian postingan blog saya kali ini, semoga  bermanfaat. Thanks for reading 🙂

Oleh:
Baiq Rosmala Dewi, S.E.I.


Referensi:
Buku Selamat Tinggal Bank Konvensional
Menggugat Bank Syariah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Pangsa Pasar Perbankan Syariah 4,87%
Pro-Kontra Sumber Daya non-Muslim di Perbankan Syariah

ojkblog250x250

Advertisements

18 thoughts on “Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya?

  1. […] Maka dari itu, walaupun niat awal ngeblog adalah untuk menulis tentang ekonomi syariah, jujur sampai sekarang saya belum terlalu pede menyampaikan pendapat tentang ilmu ekonomi islam ini. Alasan utamanya sih karena ilmunya masih cetek, masih secuil. Jadi, setiap kali bikin draft tulisan berbau ekonomi islam, hampir sebagian besar enggak jadi di-publish LOL. Kayaknya tulisan blog yang bener-bener bisa bikin saya pede untuk disebarluaskan hanya postingan yang berjudul Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya? […]

    Like

  2. […] Maka dari itu, walaupun niat awal ngeblog adalah untuk menulis tentang ekonomi syariah, jujur sampai sekarang saya belum terlalu pede menyampaikan pendapat tentang ilmu ekonomi islam ini. Alasan utamanya sih karena ilmunya masih cetek, masih secuil. Jadi, setiap kali bikin draft tulisan berbau ekonomi islam, hampir sebagian besar enggak jadi di-publish LOL. Kayaknya tulisan blog yang bener-bener bisa bikin saya pede untuk disebarluaskan hanya postingan yang berjudul Memendam Keraguan Pada Bank Syariah, Inikah Alasannya? […]

    Like

  3. Buk saya mau tanya.
    kelebihan dari bank syariah yang benar-benar menonjol agar cepat dipahami oleh masyarakat hingga masyarakat akan tertarik dalam bank syariah, itu apa saja.?

    Like

    • hmm saya agak bingung jawabnya, karena emang meyakinkan orang lain itu sulit, tergantung orangnya apa mudah diberi hidayah atau nggak hehe. Tapi sehemat saya, banyak masyarakat menilai bank syariah lebih mahal daripada bank konven, makanya males pakai bank syariah. Menurut saya sii kalau bisa dijadikan perumpamaan, babi semurah apapun tetap aja muslim tulen pasti nggak mau beli (karena suatu yang haram pasti akan ditinggalkan), sedangkan sapi or kambing walaupun mahal tetap aja akan diperjuangkan seorang muslim biar bisa berqurban. wallahu a’lam

      Like

  4. Untuk tabungan dan menyimpan hasil bisnis saya, saya simpan di bank syariah, bank konvensional hanya sebatas untuk transaksi transferan dan kebetulan untuk transfer gaji dari perusahaan saya.

    terima kasih artikelnya mba, semoga bermanfaat untuk kita semua.. aamiin

    Like

  5. Alhamdulillah, saya sudah beralih ke bank syariah lima tahun lalu. Nekat pindah setelah baca hadits (bunyinya lupa). Saat itu takut banget kalau tetap di bank konvensional. Akhirnya saya belain ambil semua uang di atm. Karena ambil hanya dibatasi 2 juta, sampai harus pindah nyari 3 atm lagi. 😀 ya setidaknya di bank syariah kita jadi tenang lah.

    Like

  6. Alhamdulillah sudah beberapa tahun kami jadi nasabah bank syariah. Istri pernah berujar, “Kita ini kan muslim. Kalau sistem syariah ga kita pakai, gimana nanti pertanggungjawaban di akhirat kok ga pakai sistem syariah?” Jadilah berangsur beralih ke bank M. Memang sih masih ada rekening di bank konvensional, semata untuk menampung transfer atau pembayaran dari pelanggan kami karena mereka belum pakai bank syariah. Setelah itu dipindahkan ke rek syariah. Betul kata Nabi, debu riba seperti ini yang memang masih sulit kita hindari di zaman modern.
    Pilihan kami ini juga berdampak pada jenis lomba blog yang saya ikuti, hehe. Kalau penyelenggara berbasis bisnis riba, saya skip. Walau temanya menarik dan hadiahnya menggiurkan.

    Like

  7. Aku dulu ngiranya juga gitu, bank syariah mah sama saja sama bank konvesional lainnya
    eh ternyata, beda
    ya, itulah namanya tak kenal maka tak sayang
    buka rekening dulu, pelajari dan baru deh menilai

    Like

  8. Masih berusaha memahami.. yg no.6 itu apa berarti kalau lagi rugi tabungan nasabah jadi berkurang karena bagi hasil yg minus itu?
    Kmdn, bisa gak kl nasabah nabung hanya untuk menitipkan uang utk disimpan saja bukan dikelola? Jadi dana nasabah blh dipotong biaya administrasi saja tp tanpa ada bagi hasil.
    Btw salam kenal ya mbak .. ☺

    Like

    • Kayaknya belum ada kasus sampai rekening nasabah tergerus karena sistem bagi hasil mba. Malahan di bank syariah ada namanya early warning system kalau emang kinerja bank nya lagi buruk, jadi biar nasabah bisa memperkirakan dananya aman atau tidak jika memilih bank itu, which is gak ada sistem kayak gini di bank konven.
      Nah, nabung di bank syariah ada berbagai pilihan akad, ada yang boleh dikelola dananya dan ada juga yang hanya berbentuk titipan. Nasabah nantinya cuman bayar biaya admin dan kalau bank nya untung besar nasabah bisa dapet bonus (ini kalau bank nya mau ngasi bonus), tapi gak dijanjikan di awal karena akad dari nasabah hanya titipan (wadi’ah).
      Salam kenal kembali Mba Erin 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s