Hidup di Era-Z: Media vs Sifat Alami Manusia

cropped-photo-1416339134316-0e91dc9ded921.jpg

Tentunya para pembaca tidak asing lagi ketika melihat maraknya pemberitaan di media cetak maupun media elektronik yang membahas mengenai kasus-kasus negatif yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah kasus pembunuhan yang hampir setiap hari diberitakan selama dua minggu terakhir. Ada kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak terhadap orang tua, ada juga pembunuhan anak kandung oleh orang tua, pembunuhan seorang mantan kekasih, pembunuhan yang dilakukan oleh teman dekat, pembunuhan yang disertai penjabretan dan masih banyak kasus negatif lainnya.

Namun kali ini saya tidak akan terlalu membahas lebih jauh mengenai isi pemberitaan dan tidak juga membahas mengenai “kok bisa sih pembunuhan itu terjadi?”. Karena masing-masing pasti memiliki opini tersendiri entah itu dilihat dari faktor kejiwaan si pelaku, kurangnya perhatian orang tua, kurangnya pendidikan rohani, dan sebagainya. Namun kali ini saya akan mencoba membahas dari aspek yang sedikit general yaitu dari sisi “Penerima Informasi” yang tak lain adalah diri kita sendiri dan masyarakat luas lainnya yang secara langsung atau tidak langsung menerima informasi negatif tersebut. Tulisan ini sendiri adalah sebuah rangkuman dari pertemuan pekanan yang pada tanggal 16 Maret 2014 lalu berdiskusi mengenai masalah ini. Lebih dari setahun yang lalu memang, tapi ketika membuka arsip catatan saya jadi merasa perlu menulis tentang hal ini 🙂

Apa itu Era-Z ?

Akan saya mulai dengan memberikan sedikit penjelasan mengenai Era-Z sesuai judul artikel ini. Era-Z adalah era di mana kebanyakan masyarakat dihadapkan dengan kemajuan zaman yang sedemikian rupa sehingga menyebabkan mereka lebih banyak melakukan aktifitas konsumsi daripada produksi. Hal ini salah satunya adalah dengan adanya kemajuan di bidang teknologi dan informasi. Dibandingkan dengan jumlah konsumennya, produsen teknologi informasi tentu jauh lebih sedikit. Dampaknya apa? Semua jenis informasi bermunculan tanpa ada saringannya. Informasi tentunya ada yang sifatnya positif dan negatif.

Saya belum melakukan riset ilmiah mengenai pengertian era-Z ini, apakah ini hanya opini dari narasumber waktu itu atau memang ada teori khusus. Tapi disini saya ingin berbagi intisarinya yang menurut saya ada benarnya juga 🙂

Manusia Lebih Cenderung Mengingat Hal Negatif

Dalam sebuah penelitian di Oxford University menyebutkan bahwa dari 10 orang yang menerima informasi positif, hanya 3 orang saja yang mampu memahami dan menyampaikan kembali (mengingat) informasi tersebut. Sedangkan 7 orang lainnya tidak bisa mengingat iformasi positif tersebut dan hanya berlalu sepintas saja. Sedangkan dari 10 orang tersebut ketika diberikan informasi negatif, 7 orang sangat mengingat persis informasi yang diperolehnya. Ini artinya, manusia itu cenderung lebih mengingat informasi negatif daripada informasi postif. Pertannyaannya adalah, dimana posisi kita? Tentu kita sendirilah yang lebih tahu. Masalahnya adalah, sampai kapan kita bisa bertahan di kelompok 3 orang yang mengingat informasi positif tadi? Atau jangan jangan dikarenakan terlalu banyaknya informasi negatif yang kita terima dari media, lama kelamaan kita akan termasuk kelompok 7 orang yang mengingat persis informasi negatif yang diterimanya. Inilah mengapa “Saringan Informasi” itu sangat diperlukan bagi setiap individu.

Tiba-tiba otak saya jadi iseng dan kepikiran sendiri, apa karena kecenderungan manusia yang lebih cepat mencerna informasi negatif ini sedang dimanfaatkan oleh media ya? Jadi beritanya kebanyakan yang negatif, atau paling gak judul beritanya deh yang di”negatif”kan untuk menyedot perhatian pembaca. Pikiran saya yang aneh ini mudah-mudahan tidak benar 😀

Kadang Kita Tidak Bisa Menyalahkan Media

Dikarenakan kemajuan teknologi yang semakin pesat pada zaman sekarang ini, maka internet yang menjadi salah satu sumber informasi dapat menghadirkan miliaran bahkan triliunan jenis informasi positif maupun negatif. Jenis informasi apa yang menjadi konsumsi kita sehari hari tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan sekitar, pertemanan, bimbingan orang tua dan yang menurut saya yang menjadi faktor yang paling signifikan pengaruhnya adalah motivasi dalam diri kita sendiri. Kita sendirilah yang menentukan apakah informasi yang kita konsumsi akan cenderung kebanyakan positif atau negatifnya.

Adanya berita negatif yang ada di media  cetak maupun media elektronik tentunya tidak bisa kita hindari. Contohnya seperti yang telah disebutkan di atas adalah kasus pembunuhan yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya. Tentunya jika kita terus fokus yang berlebihan terhadap informasi tersebut kita akan merasa khawatir dan takut jika hal tersebut menimpa diri kita. Seharusnya kita juga harus dapat mengimbangi jenis informasi yang kita konsumsi dengan informasi positif lainnya. Seperti: masih banyak toh cerita seorang anak yang berbakti dan menyayangi orang tuanya? Tetapi kenapa media justru jarang mengangkat isu-isu tersebut? Sedangkan ketika ada informasi negatif, tayangannya terus diputar selama sepekan, yang tidak jarang ikut meresahkan masyarakat. Di satu sisi mungkin kita dapat mengambil pelajaran dan mengambil langkah pencegahan agar hal negatif tersebut tidak menimpa diri dan keluarga kita. Namun di sisi lain justru lebih diperlukan adanya upaya mencari informasi positif lainnya yang kadang justru banyak luput dari pandangan media.

Filter Itu Adalah Diri Kita Sendiri

Kaitannya dengan era-Z adalah kita sebagai masyarakat yang bermoral dan berpendidikan justru harus lebih cermat dalam melihat sumber berita. Ketika ada media tertentu yang berkata A, maka hendaklah kita mencari sumber berita lain yang mungkin saja berkata B pada kasus yang sama.

Contohnya: pernah suatu ketika seorang Ustadz yang memberikan tausiah menyebutkan bahwasanya dalam Islam seorang suami diperbolehkan memukul istri. Bagi media yang tidak senang dengan Islam tentunya akan memanfaatkan tausiah tersebut untuk menjelekkan dan melecehkan Islam. Padahal pada saat itu Ustadz tersebut tidaklah berkata demikian melainkan ada kelanjutannya yaitu: “…dalam Islam seorang suami diperbolehkan memukul istri, apabila istri melakukan kesalahan yang di luar batas, setelah sang suami menegur istri tapi tak mau berubah, setelah dicuekin (pisah ranjang) juga tidak mau berubah, barulah ia boleh memukulnya tetapi dengan pukulan yang tidak menyakiti”. Terbayang kah bagaimana pukulan yang tidak menyakiti ini? Sama aja disuruh untuk tidak memukul kan intinya? (ini beneran ada haditsnya memang, dan kasus pemberitaan oleh media ini terjadi di luar negeri).

You see? Mungkin ini hanya contoh random, tapi itulah media, kadang (tidak semua lho yaa) mereka menyalurkan informasi demi kepentingan segelintir pihak dan untuk mencari keuntungan sedangkan yang menjadi korban adalah masyarakat. Apabila kita tidak cermat memilih dan memilah jenis informasi dan sumber informasi yang kita konsumsi tentunya kita akan menjadi korban media-media yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Oiya kasus di atas cuman sembarang contoh lho yaa. Tentunya saya disini berbicara dari kacamata general. Intinya, mari kita belajar menjadi masyarakat yang melek informasi dimana kita juga harus melihat dari sisi lainnya. Jangan kalau ada info heboh di media kita langsung  broadcast tanpa mencari tahu kebenarannya, tapi eh tapi ujung-ujungnya ternyata berita itu tidak benar atau hoax. Teman-teman gak mau juga kan jadi korban berita hoax? :’)

Itulah sedikit pendapat dari saya. Jika ada pendapat yang berbeda silahkan dikomentari, jika ada yang salah silahkan diperbaiki.

Thanks for reading and have a nice day all! 🙂

Salam @baiqrosmala

Advertisements

3 thoughts on “Hidup di Era-Z: Media vs Sifat Alami Manusia

  1. Aku sungguh2 sangat tidak suka dgn yg namanya hoax. Salah satu alasan kenapa aku udah amit2 jabang bayik nggak mau pake BBM lagi, hahaha. Terlalu banyak org yg menyebarkan hoax di BBM.

    Like

    • Sama mba! Apalagi kalau udah bawa nama-nama agama. Kayak, kalau gak disebarkan maka ini itu, atau ada hadits palsu yang bilang nabi bersabda barang siapa menyebarkan berita kebaikan ini maka ganjarannya surga. Apaan cobaa haha, padahal hadistnya gak ada yg kayak gitu.
      Anyway, aku masih tetep pake BBM haha karena kebanyakan temen temen deket hubunginya lewat BBM selain WA 😀 Walaupun broadcast gak jelas itu datangnya kebanyakan dari BBM kekeke

      Like

      • Aku jg ada bbm krn ada bbrp penjual yg cm pake bbm aja. Trs klo udah berita hoax gt, duh bener emg ngeselin yo klo udah ngancem2 gt, hahaha.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s