Melirik Desa Oeue: Desa Muslim Terpencil di NTT

Pembacaan Qalam ilahi untuk membuka acara hari itu dibacakan oleh seorang gadis kecil berusia 9 tahun. Itulah salah satu anak berprestasi di Desa Oeue. Sebuah desa yang terletak sekitar 6 jam perjalanan dari Kupang NTT dengan medan tempuh yang lumayan sulit, panjang dan penuh bebatuan. Belum lagi di tengah-tengah perjalanan disambut dengan jembatan penyebrangan yang kala itu ditutup.

Untungnya sungai di bawah jembatan itu kering sehingga dapat dilewati oleh mobil. Setelah berhasil melewati sungai pun, mobil harus dipaksa melewati jalan yang menanjak lengkap dengan pasir dan bebatuan. Awalnya kami tak yakin dapat melewatinya, tetapi dengan pengemudi yang handal yang sudah terbiasa akhirnya mobil dapat berjalan dengan lancar.

Sungai kering di bawah jembatan

Perjalanan ini bukanlah sebuah jejak petualangan tanpa misi. Kedatangan kami ke NTT ini adalah dalam rangka melihat Program Sebar Qurban Nusantara yang dilaksanakan oleh PKPU Humanitarian Foundation yang bekerjasama dengan HASENE. Sebuah organisasi kemanusiaan yang dipelopori oleh muslim Turkey yang berdiam di Eropa. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh PKPU. Namun ini adalah pengalaman pertama saya ke NTT sebagai Supervisor Program bersama dengan Pak Teguh (media center) menemani donatur HASENE dari German yang ingin melihat langsung pelaksanaan program tersebut.

Tim yang hampir semuanya mengalami mabuk perjalanan karena medan yang ditempuh, akhirnya disambut oleh warga Desa Oeue dengan upacara penyambutan yang luar biasa. Rasa pusing dan sakit kepala kami langsung sirna ketika melihat antusias dan keceriaan masyarakat karena dikunjungi oleh orang luar. Mereka menari beriringan dengan musik khas yang sangat riang. Salah seorang pemandu mengatakan bahwa jarang sekali ada orang bule yang datang kesini, hal ini membuat mereka senang. Upacara penyambutan sendiri merupakan adat istiadat desa Oeue ketika ada orang baru yang berkunjung. Pada saat itu, ratusan masyarakat telah berkumpul dari pagi (kami tiba sekitar pukul 11 siang) untuk merayakan Idul Fitri 1433 H/2012.
Tarian khas Desa OeUe ketika menyambut tamu
Upacara Penyambutan oleh warga Desa Oeue

Setelah dibuka dengan doa, pemotongan daging Qurban pun dimulai. Puluhan hewan Qurban (sapi) disembelih waktu itu. Warga terlihat sangat antusias dan ingin melihat dari dekat proses penyembelihan hewan Qurban. Terdapat sekitar 600 warga desa turut mengikuti acara ini, can you imagine?! Wow. Oiya, program yang sama juga telah dilaksanakan dua hari sebelumnya di NTB  (baca juga artikel Perjalanan SQN ke Lombok).

Idul Adha di Desa Oeue
 Sementara itu, disisi lain terlihat puluhan anak-anak (kebanyakan populasi Desa Oeue adalah anak-anak) terlihat sangat senang bermain dengan Mr.Abdullah, donatur dari German. Mereka bermain segala jenis permainan lokal yang ada, mereka tak henti-hentinya berteriak “Lanjuttttttt” ketika satu permainan telah selesai. Melihat keceriaan anak-anak tersebut menjadikan orang tua mereka juga terlihat bahagia. Tak sedikit pun terlihat ada kepedihan, every face in that village was showing happiness.

Sedikit bercerita mengenai sejarah, Desa Oeue merupakan desa muslim minoritas di NTT. Hampir 90% masyarakat desa ini sekarang sudah memeluk Islam. Dulu sebelum Islam diterima menjadi sebuah agama, nenek moyang mereka mengalami penindasan, rumah mereka dibakar dan banyak penduduk yang dibunuh. Itulah mengapa mereka akhirnya mengungsi ke daerah pegunungan yang jarak tempuhnya lumayan jauh agar tetap tenang menjalani ibadah. Kini antusias mereka dalam mempelajari agama Islam sangat tinggi. Beberapa pemuda telah dikirim dan dibiayai sekolahnya oleh warga yang mampu untuk menuntut ilmu di luar kota yang kemudian akan kembali mengabdi mengajarkan agama di Desa tersebut.

Ume Kubu

Sebagian besar warga Oueu dahulunya tinggal di rumah Ume Kubu. Rumah ini berbentuk bulat, beratap ilalang tanpa jendela dengan lantai yang terbuat dari tanah liat. Namun setelah mereka memeluk Islam, mereka beralih menggunakan rumah yang lebih bersih dan menjalani hidup sehat. Sekarang Ume Kubu hanya dijadikan dapur dan lumbung saja. Tetapi, tak jarang ada warga yang masih menganut tradisi bahwa wanita yang sedang (maaf) Haid harus berada di rumah Ume Kubu selama masa Haidnya, yang merupakan adat dari jaman dahulu.

Anak-anak sangat antusias
Bersama anak-anak Desa OeUe

Waktu Dzuhur pun tiba, dan betapa kagetnya saya dan anggota Tim lainnya ketika mengetahui bahwa untuk memperoleh air yang kami gunakan untuk berwudhu, warga harus menempuh perjalanan sekitar 1,5 kilometer (3 kilometer bolak-balik) menuruni lembah menuju sungai. Mengetahui hal tersebut, kami memutuskan untuk mengggunakan air secukupnya yaitu hanya untuk berwudhu. Timbul kepedihan yang luar biasa di hati ketika mengingat selama ini saya sering menggunakan air dengan boros. mashaAllah.

Penyembelihan hewan qurban pun dilanjutkan. Dari kejauhan terlihat ibu-ibu sedang sibuk memasak dan menyiapkan makanan untuk acara makan-makan seluruh warga. Sementara itu, saya beserta Mr. Abdullah melanjutkan menghibur anak-anak. Mengadakan quiz berupa pertanyaan sekitar pengetahuan agama dan yang bisa menjawab akan mendapatkan hadiah. Selain itu ada beberapa pemuka desa yang menghampiri kami untuk menceritakan keadaan Desa Oeue lebih lanjut. Ada juga seorang Kepala Sekolah, seorang ibu asli Sunda yang mengabdikan diri di Desa tersebut. Beliau menceritakan perjuangannya dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak walaupun dengan fasilitas bagunan sekolah yang seadanya, belum lagi keterbatasan buku dan akses informasi. Semua itu dilalui dengan penuh keihklasan. “Dulu sebelum sekolah dibangun, ibu jalan kaki sejauh 7 kilometer untuk mengajar” ucapnya dengan senyum bangga telah melewati masa-masa sulit itu. Saya sempat berucap dalam hati “itu artinya 14 kilometer bolak-balik, setiap hari, selama bertahun-tahun! Subhanallah” I got nothing to say.

Keceriaan kembali terlihat, tak ingin melewati hari yang penuh kebahagiaan ini, para warga berkumpul untuk mengadakan Panjat Pinang. Semua terlihat begitu mengagumkan. Mr. Abdullah yang baru pertama kali melihat kegiatan ini terlihat begitu bersemangat. Semangat itu juga terpancar dari muka ratusan warga yang menyaksikan kegiatan tersebut. For me, that was amazing!
Panjat Pinang
Keceriaan warga Desa OeUe NTT
Tak terasa hari sudah menjelang sore, perasaan sedih pun menghampiri karena harus berpisah dengan orang-orang yang ramah dan luar biasa itu. Semoga Allah Swt selalu melindungi dan memberkati warga Desa Oeue dan semoga kunjungan kali ini memberikan manfaat yang lebih bagi mereka dan menjadikan motivasi dalam mempelajari Islam.
Have a nice day Everyone, be thankful for everything you have  ^^
Thanks for reading !
Advertisements

14 thoughts on “Melirik Desa Oeue: Desa Muslim Terpencil di NTT

  1. Wah ini di Kupang ya? Uuh.. aku dulu pernah ke Flores jarang nemu saudara muslim. Sulit untuk ngapa-ngapain. Pengen deh kapan2 jalan2 kesana. Desa Oeue ya?
    Ngomong2 dalam rangka apa tuh kok ada tim dan donatur?

    Liked by 1 person

    • Hi Hafidh terimakasih sebelumnya sudah mampir ke blog saya :). Iya ini bulan Oktober 2012 waktu itu saya masih kerja di lembaga kemanusiaan di Jakarta. Ini juga pengalaman pertama saya ke NTT, dalam rangka nyebarin hewan qurban dari donatur. Muslim di NTT cuman 10% dari total penduduk. Kalau gak salah waktu itu total penduduk NTT sekitar 4-5 juta, artinya yang muslim cuman 400ribuan orang. Dan mereka karena minoritas kebanyakan tinggalnya di pelosok. Seperti Desan Oeue yang harus ditempuh 6 jam lebih dari Kupang karena letaknya di pegunungan 🙂

      Like

      • Oh, sekarang udah nggak di lembaga kemanusiaan lagi? Hmm.. Iya dan kebanyakan sih dari pendatang, apalagi di pelabuhan. Udah banyak muslim. Tapi sekali ke pelosok desa, jarang banget. Makanya kaget pas lihat ulasan yg keren ini. Pengen balik lagi menjelajah NTT. Terutama Sumba, kalo ke Kupang sekalian ke Timor Leste aja heheh 😀

        Liked by 1 person

      • Iya ni, saya gak kerja di lembaga kemanusiaan (yang di Jakarta) lagi. Sekarang lagi memulai mengurus lembaga sosial kecil kecilan di Lombok hehe.
        Wah, keren mas kalau suka menjelajah, apalagi udah sampai NTT. Kapan kapan Lombok juga dijelajah ya mas haha #promosidaerah 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s