Catatan dari Pulau Penyumbang TKI (No.2) Terbesar di Indonesia

Perjalanan kali ini masih seputar Sebar Qurban Nusantara (SQN), program tahunan yang diadakan oleh PKPU Humanitarian Foundation di seluruh nusantara. Program ini berbentuk donasi hewan Qurban yang disalurkan dari para donatur dalam dan luar negeri ke seluruh penjuru tanah air, dan juga ke beberapa Negara di Asia dan Afrika yang membutuhkan. Idul Adha 1433 H saya kali ini berbeda dengan Idul Adha sebelum-sebelumnya.

Alhamdulillah tahun ini diberikan kesempatan untuk merayakan Idul Adha di kampung halaman tercinta Pulau Lombok. Karena pulang kampung kali ini bukan pulang kampung yang biasa, melainkan membawa satu misi yaitu menjadi Supervisor Program Qurban menemani donatur dari HASENE Germany untuk melihat implementasi penyaluran Qurban di NTB dan NTT. Kedatangan donatur langsung dari German ini menurut saya tidak berlebihan karena HASENE menyalurkan sekitar 500 sapi melalui PKPU untuk disebarkan melalui program SQN ini. Di NTB dan NTT sendiri jumlah hewan Qurban yang disalurkan adalah 45 ekor sapi.

Hari pertama di Lombok diawali dengan melihat lokasi penyembelihan hewan Qurban. Lokasi pertama tidak begitu jauh dan masih berada di seputaran kota Mataram. Lokasi kedua yang berlokasi di Lombok Timur berada sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil (tanpa macet) dari Mataram. Berhubung di Lombok, dan karena naluri sebagai orang asli Lombok (:P), tentunya saya mengajak tamu tersebut berjalan-jalan melihat keindahan pulau yang dikenal dengan sebutan “Pulau Seribu Masjid” ini. Objek wisata di Lombok sendiri, terutama pantai, tidak jauh indah dari Pulau Bali lhooo kawan ^^. If you have time and want to see the beauty of Indonesia, this island is much recommended! 

Rumah warga

Penyembelihan hewan qurban pada hari pertama Idul Adha Alhamdulillah berjalan lancar. Puluhan warga yang membutuhkan berkumpul dan mengantri untuk mendapatkan daging hewan yang sudah disembelih. Banyak warga yang kurang mampu merasa senang dengan adanya program ini, terlebih Index Pembangunan Manusia Provinsi NTB berada di urutan 32 dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia. Jadi terdapat banyak warga kurang mampu yang membutuhkan bantuan.
Dalam kesempatan kali ini, Tim SQN berkesempatan melihat kondisi tempat tinggal para penerima manfaat (beneficiaries).
Medan tempuh dalam perjalanan kali ini memang tak sesulit perjalanan ke Desa Oeue NTT (baca juga Catatan Perjalanan ke NTT). Setelah melihat kondisi perumahan para warga, kita memang harus lebih bersyukur karena kondisi kita yang mungkin lebih jauh beruntung mereka. Lombok merupakan penyumbang tenaga kerja nomor 2 (dua) terbanyak di Indonesia. Kebanyakan warga Lombok yang tidak mampu memilih untuk menjadi TKI ke Malaysia. Setelah memiliki uang yang cukup, mereka kembali ke Lombok untuk membangun rumah yang lebih layak. Hanya sedikit yang kembali untuk membuka usaha yang bersifat produktif (seperti membuka usaha kecil-kecilan). Hal inilah mungkin salah satu penyebab IPM NTB berada diurutan nomor 2 dari bawah. Satu tingkat di atas Papua dan satu tingkat di bawah NTT.

Keadaan di dalam rumah
Dapur

Suami ke Malaysia, dan tidak ada kabar…
“Salah satu warga kampung disini juga dulunya pernah ke Malaysia menjadi TKI, alih-alih akan mendapatkan rumah yang lebih baik sepulang suaminya, seorang istri justru menunggu bertahun-tahun tanpa kabar. Ya, suami ke Malaysia dan tak pernah kembali lagi” (Hikz, miris banget dengernya!!!).
Memang dapat dibedakan antara warga yang salah satu anggota keluarganya pernah menjadi TKI atau tidak. Warga yang pernah menjadi TKI rumahnya terbuat dari batu bata, sedangkan warga yang tidak pernah ke Malaysia menjadi TKI rumahnya masih terbuat dari anyaman bambu dengan atap alang-alang. Salah satu warga yang melihat kunjungan kami dan yang mau diwawancarai mengaku bahwa suaminya tidak memiliki uang untuk menjadi TKI. Ibu tersebut mengijinkan kami untuk meliput rumahnya. Terlihat bahwa rumah dari anyaman bambu dengan atap alang-alang dan lantai dari tanah liat, luas rumah yang hanya berukuran 3×3 tersebut dihuni oleh empat orang (suami, istri dan kedua orang anaknya), dengan dapur yang menyatu alias tidak ada pembatas dengan tempat tidur. Sedih memang…
Toilet
Selain itu, kebanyakan warga lokal Lombok memiliki toilet yang terpisah dengan rumah tempat tinggal. Bentuk toilet mereka yang hanya ditutupi oleh karung tipis dan terbuat tempat penampungan dari kendi, biasanya digunakan untuk mandi dan cuci piring. Sedangkan kegiatan lain yang membutuhkan air lebih banyak biasanya warga langsung ke sungai yang mengalir dekat perumahan, dan tak jarang air sungainya pun jauh dari kriteria bersih dan sehat.
Begitulah, selanjutnya perjalanan berlanjut ke wilayah lain yang tidak terlalu jauh. Kali ini kami berkesempatan melihat salah satu Madrasah (tingkat SD dan SMP) yang ada di Desa Banyumulek. Kebetulan waktu itu anak-anak sekolah yang merupakan warga asli Desa tersebut sedang melakukan kegiatan harian mereka, English Practicing Day sekaligus Muhadatsah Bahasa Arab. Terlihat bahwa semangat belajar para siswa-siswi tersebut sangat tinggi walaupun dengan kondisi sekolah yang masih benyak kekurangan, terutama toilet yang tidak memiliki atap dan masijd sekolah yang hanya berupa lantai semen (tanpa dinding dan atap). 

Miris memang, tanah yang kaya dengan keindahan alam ini tidak dapat dinikmati oleh masyarakatnya.

Demikian catatan perjalanan kali ini, Warm regards from Lombok island 😉

Always thankful for what you have…
Thanks for reading and have a nice day!
Advertisements

2 thoughts on “Catatan dari Pulau Penyumbang TKI (No.2) Terbesar di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s